>

Kasus Narkoba Seret Pemuda di Deli Serdang, Ayah Kandung Sebut Anak Hanya Diminta Antar Paket

DELI SERDANG, SUMUT – Penangkapan seorang pemuda bernama Handika dalam kasus dugaan peredaran narkotika di Kabupaten Deli Serdang memunculkan sejumlah pertanyaan dari pihak keluarga. Ayah Handika menilai anaknya kemungkinan menjadi korban jebakan rekannya sendiri hingga akhirnya berurusan dengan hukum.

Kepada wartawan, ayah Handika menyampaikan bahwa anaknya hanya diminta mengantarkan sebuah paket oleh seseorang bernama Halim, yang diketahui sehari-hari bekerja sebagai tukang babat rumput. Menurutnya, Handika tidak mengetahui isi paket tersebut.

“Anak saya tidak tahu apa isi paket itu. Dia hanya diminta mengantarkan. Bahkan sebelumnya dia sempat menolak,” ujar ayah Handika saat dimintai keterangan.

Ia menjelaskan, Handika akhirnya menerima permintaan tersebut setelah Halim mengirimkan uang sebesar Rp400 ribu melalui dompet digital sebagai uang jalan. Hal itu juga disampaikan langsung oleh Handika saat berbicara melalui sambungan telepon dari Rumah Tahanan (Rutan) Anak.

“Dia bilang tidak menyangka Halim mengirim uang Rp400 ribu lewat e-wallet. Dia juga bilang sebenarnya tidak tahu isi paket itu,” ungkap sang ayah.

Pihak keluarga juga menyebut adanya keterlibatan seorang rekan Handika bernama Irhan. Berdasarkan informasi yang mereka terima, Irhan diduga terlibat dalam peristiwa tersebut dan sempat melarikan diri ke Aceh setelah kejadian.

Sementara itu, Handika dilaporkan ditangkap oleh tim Satuan Narkoba Polda Sumatera Utara pada 22 Desember 2025 sekitar pukul 17.00 WIB di kawasan Stasiun DAMRI Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang.

Dalam penindakan tersebut, petugas dikabarkan mengamankan barang bukti narkotika berupa sekitar 1 kilogram sabu serta 4.000 butir pil ekstasi.

Selain mempertanyakan kronologi penangkapan, keluarga juga menyoroti dugaan adanya tindakan kekerasan yang dialami Handika saat diamankan. Ayahnya mengaku mendapat cerita langsung dari anaknya bahwa ia dipukul oleh oknum petugas meski tidak melakukan perlawanan.

“Anak saya bilang tidak melawan, tapi tetap dipukul di bagian betis dan tangannya dihantam agar tidak banyak bicara. Dia juga menyebut nama salah satu polisi bernama Roberto,” kata ayah Handika.

Menurutnya, perlakuan tersebut sangat disayangkan mengingat Handika masih berusia muda dan baru saja menyelesaikan pendidikan sekolahnya. Selama ini, kata dia, anaknya berusaha membantu keluarga untuk mencari penghasilan.

“Anak saya baru tamat sekolah. Dia hanya mau membantu orang tua supaya dapur tetap berasap. Apakah harus diperlakukan seperti itu,” ujarnya dengan nada sedih.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian terkait dugaan kekerasan tersebut maupun penjelasan lengkap mengenai kronologi penangkapan Handika.

Pihak keluarga berharap aparat penegak hukum dapat mengusut perkara ini secara objektif dan transparan, serta memberikan keadilan bagi semua pihak.

(Louis Siahaan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page